Wamentan Saleh Pacu Investasi Fosfat di Aljazair, Perkuat Pasokan Bahan Baku Pupuk Nasional
2026-10-15 14:31:20 M. Digi
Jakarta — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa mendorong percepatan tindak lanjut kerja sama investasi fosfat antara PT Pupuk Indonesia dan perusahaan fosfat Aljazair, Somiphos, untuk memperkuat pasokan bahan baku pupuk nasional. Salah satu tahapan yang diupayakan adalah penyepakatan joint study agreement atau perjanjian studi bersama sebagai langkah menuju kajian investasi yang lebih konkret.
Dorongan tersebut disampaikan Wamentan Saleh dalam pertemuan dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Aljazair, Yusron Bahauddin Ambary, di Jakarta, Kamis (15/10). Pertemuan membahas perkembangan penjajakan investasi serta langkah yang diperlukan untuk memperkuat kerja sama Indonesia dan Aljazair di sektor fosfat.
Wamentan Saleh mengatakan, proses penjajakan telah berjalan dan pembahasan mengenai berbagai aspek investasi terus dilakukan. Pemerintah berharap komunikasi yang telah terbangun dapat segera ditindaklanjuti melalui tahapan kerja sama yang lebih terarah.
“Harapannya, kita bisa sampai pada joint study agreement,” ujar Saleh.
Menurut Saleh, studi bersama diperlukan untuk memperjelas ruang lingkup kerja sama dan mengkaji peluang investasi yang dapat dikembangkan oleh kedua pihak. Meski demikian, rencana tersebut masih memerlukan pembahasan lanjutan dan belum memasuki tahap pembangunan fisik atau groundbreaking.
Duta Besar RI untuk Aljazair Yusron Bahauddin Ambary menjelaskan bahwa Pemerintah Aljazair membuka peluang investasi bagi pengusaha Indonesia, baik badan usaha milik negara (BUMN) maupun swasta, terutama di sektor fosfat. Pemerintah Aljazair juga menyampaikan komitmen untuk memberikan prioritas kepada investor Indonesia.
Menurut Yusron, undangan investasi tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune ketika dirinya menyerahkan surat kepercayaan sebagai Duta Besar RI. Peluang ini dinilai strategis bagi Indonesia untuk memperkuat akses terhadap bahan baku yang dibutuhkan industri pupuk nasional.
“Pemerintah Aljazair mengundang pengusaha Indonesia, baik BUMN maupun swasta, untuk berinvestasi, terutama di sektor fosfat. Mereka juga menyampaikan bahwa investor Indonesia akan mendapatkan prioritas,” kata Yusron.
Ia menambahkan, Aljazair menargetkan produksi fosfat mencapai 10 juta ton per tahun. Target tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk menjajaki kerja sama di bidang penambangan dan pengolahan fosfat, sekaligus memperkuat kemitraan industri kedua negara.
Langkah awal kerja sama telah dilakukan melalui penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara PT Pupuk Indonesia dan Somiphos pada 20 Januari 2026. Kesepahaman tersebut mencakup penjajakan pasokan fosfat, peluang investasi penambangan dan pengolahan, serta pengembangan industri pupuk berbasis fosfat.
Pertemuan Wamentan Saleh dan Dubes RI untuk Aljazair kali ini menjadi bagian dari upaya mendorong tindak lanjut MoU tersebut. Pemerintah berharap penjajakan yang telah dilakukan dapat berkembang menjadi kerja sama yang lebih konkret berdasarkan hasil kajian dan kesepakatan para pihak.
Penguatan akses terhadap bahan baku fosfat menjadi salah satu langkah strategis untuk mendukung keberlanjutan industri pupuk Indonesia. Diversifikasi sumber pasokan diharapkan dapat memperkuat rantai pasok bahan baku sekaligus mendukung ketersediaan pupuk bagi sektor pertanian.
Wamentan Saleh berharap koordinasi antara pemerintah dan pelaku usaha Indonesia dengan mitra di Aljazair terus diperkuat agar peluang kerja sama dapat ditindaklanjuti secara bertahap. Upaya ini menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat industri pupuk nasional dan mendukung ketahanan pangan Indonesia.